Menu

DISKES PASURUAN SHARING MENGENAI KLINIK VCT DENGAN RSUD WANGAYA

  • Senin, 09 Agustus 2010
  • 6149x Dilihat
Meningkatnya jumlah penderita penyakit HIV AIDS di Kota Pasuruan karena penduduknya yang heterogen dan sebagian besar bekerja di luar kota serta kurangnya kesadaran ODHA untuk mau memeriksakan diri dikhawatirkan akan membuat penyebaran HIV AIDS semakin meluas di masyarakat. Hal itulah yang melatarbelakangi kedatangan Rombongan dari Dinas Kesehatan Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur ke RSUD Wangaya Kota Denpasar. Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami sebagai partner untuk melakukan sharing mengenai Klinik VCT. Kami percaya bahwa Tim Klinik VCT kami adalah orang-orang yang memiliki keahlian dan pengalaman di bidangnya. Semoga kami dapat membantu memeberikan solusi dari setiap permasalahan yang Bapak dan Ibu hadapi. Hal tersebut diungkapkan Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Wangaya, dr. Setiawati Hartawan, M.Kes saat menyambut kedatangan Rombongan dari Dinas Kesehatan Kota Pasuruan yang dipimpin oleh dr. Hermanta Setiarsa, MQIH di Ruang Pertemuan RSUD Wangaya. Pada kesempatan tersebut Rombongan dari Dinas Kesehatan Kota Pasuruan menanyakan bagaimana cara menghilangkan paradigma di masyarakat bahwa HIV AIDS adalah penyakit yang mudah menular dan bagaimana mengurangi diskriminasi masyarakat terhadap ODHA. Mereka juga menanyakan bagaimana cara mendekati ODHA agar mau melakukan konseling dan memeriksakan diri di Klinik VCT. Menanggapi hal tersebut, Konsulen Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya, dr. I Ketut Suryana, Sp.PD menjelaskan bahwa kita harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai HIV AIDS dan cara penularannya. Kita bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang yang sama maupun dengan Dinas Kesehatan setempat. Untuk mendekati ODHA, kita harus mendekati terlebih dahulu orang-orang terdekat mereka seperti keluarga atau teman yang bisa membantu kita untuk merujuk ODHA agar mau berobat. Kita juga tiak boleh mendiskriminasikan para ODHA apalagi memperlakukan mereka dengan khusus. Hal itulah yang menyebabkan RSUD Wangaya tidak membuat ruangan khusus untuk merawat pasien dengan HIV AIDS, karena hal tersebut dianggap melanggar HAM dan hanya akan membuat para ODHA semakin putus asa. Yang penting pasien dengan HIV AIDS tidak ditempatkan satu ruangan dengan pasien yang memiliki penyakit menular lainnya. Untuk paramedis, kami di RSUD Wangaya sudah memberikan sosialisasi mengenai HIV AIDS jadi mereka tidak takut berhadapan dengan ODHA. Kami juga memiliki kode khusus yang membedakan pasien HIV AIDS dengan pasien lainnya sehingga pemberi pelayanan di RSUD Wangaya tahu mana pasien HIV AIDS dan bukan, sehingga mudah mengarahkan mereka harus memeriksakan diri ke mana dan untuk mencegah timbulnya kepanikan pengunjung rumah sakit. Lebih lanjut dr. Suryana juga menginformasikan bahwa RSUD Wangaya memberikan layanan Klinik VCt MObile. Jka ada rumah sakit swasta atau rumah sakit lainnya yang tidak memiliki Klinik VCT menelepon, kami akan mengirimkan konselor ke sana. Jka setelah diperiksa di klinik VCT Merpati RSUD Wangaya tes darah menunjukkan hasil positif, maka ODHA akan melakukan konseling dan pemeriksaan lanjutan di Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya. dr. Hermanta mengatakan sangat terbantu dengan penjelasan yang diberikan oleh Tim Klinik VCT RSUD Wangaya. Semoga kami bisa menerapkan hal yang sama di Pasuruan, imbuhnya. Pertemuan yang berlangsung cukup singkat tersebut diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada RSUD Wangaya dan dilanjutkan dengan kunjungan ke Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya. (Ind)