Meriahkan HUT Pemkot Denpasar, RSUD Wangaya Laksanakan Kerja Bakti dan Penyuluhan HIV AIDS
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat, RSUD Wangaya Kota Denpasar mengadakan kegiatan kerja bakti Lingkungan Desa Dauh Puri Kaja, dilanjutkan dengan penyuluhan HIV AIDS, Jumat (8/2).
Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Dauh Puri Kaja, I Ketut Medra Suryawan, BA seluruh Kelihan Banjar serta warga di Lingkungan Desa Dauh Puri Kaja.
“ Kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial kami sebagai rumah sakit yang dekat dengan warga. Selain itu kegiatan yang diawali dengan kerja bakti kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan tentang HIV AIDS ini sekaligus merupakan rangkaian dari Hari Ulang Tahun Pemkot Denpasar ke-225. Topik HIV AIDS sengaja kami pilih mengingat kasus HIV AIDS terus meningkat dan harus ditekan. Selain itu, RSUD Wangaya juga memiliki Klinik VCT Merpati yang khusus menangani pasien dengan HIV AIDS sehingga sudah seharusnya kami membantu masyarakat untuk lebih tau apa dan bagaimana HIV AIDS ituâ€. Hal tersebut dikatakan Direktur RSUD Wangaya Kota Denpasar, dr. Setiawati Hartawan, M.Kes saat membuka penyuluhan HIV AIDS di Kantor Kepala Desa setempat.
Kepala Desa Dauh Puri Kaja, I Ketut Medra Suryawan, BA menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian RSUD Wangaya terhadap warganya dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun mendatang.
Sementara itu dalam penyuluhan yang dikemas dengan cara diskusi santai, Konsultan Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya, dr. Ketut Suryana, Sp.PD-KAI menjelaskan secara singkat perbedaan HIV dan AIDS. HIV merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia sedangkan AIDS merupakan penyakit yang timbul akibat adanya virus yang merusak kekebalan tubuh manusia. Seseorang yang menderita HIV belum tentu terjangkit AIDS jika pengobatan dilakukan sejak dini. Virus HIV terdapat dalam darah, cairan semen/air mani, cairan vagina dan air susu ibu, sehingga penularannya baru dapat terjadi jika ada kontak dengan faktor tersebut, seperti hubungan seks tanpa pelindung, pasangan seks yang berganti-ganti, penggunaan jarum suntik secara bergiliran, penggunaan tindik yang tidak steril, serta ibu yang menyusui bayinya. Sentuhan langsung seperti berpelukan atau bersalaman tidak dapat menularkan virus ini jika pada tubuh kita tidak terdapat luka. Dijelaskan pula oleh dr. Suryana bahwa penularan virus ini juga mungkin tidak terjadi meskipun kita terkena 4 faktor cairan seperti disebutkan di atas jika jumlah virus yang masuk tidak cukup untuk menularkan, kekuatan virus tidak terlalu kuat untuk menularkan dan tidak adanya pintu masuk / celah bagi virus tersebut untuk masuk ke tubuh kita. Beberapa gejala yang biasanya timbul jika sesorang mengidap HIV AIDS antara lain berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran, timbul penyakit kulit kronis seperti herpes di seluruh tubuh pada usia muda atau paruh baya, pembesaran kelenjar di leher (TB kelenjar), TBC usia muda, jamur di lidah dan area mulut. Orang yang tampak sehat belum tentu tidak terjangkit HIV AIDS karena gejala penyakit ini umumnya baru muncul antara 5 sampai 10 tahun. Namun demikian dr. Suryana menghimbau agar kita tidak menjauhi dan mengucilkan orang yang terkena HIV AIDS, justru dengan dukungan kita, kemungkinan mereka untuk bisa sembuh lebih besar. Dr. Suryana juga ingin mengubah fenomena di masyarakat yang menganggap bahwa HIV AIDS tidak ada obatnya. Obat untuk HIV AIDS ada, dan banyak pasien yang datang ke Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya berhasil disembuhkan dengan mengonsumsi obat secara rutin dan teratur. Untuk itu dr. Suryana menyarankan agar orang yang merasa hidupnya beresiko agar segera memeriksakan diri, karena lebih cepat terdeteksi, lebih cepat pengobatan dapat dilakukan sehingga resiko kematian lebih kecil.
Hal penting lainnya yang dijelaskan dalam penyuluhan tersebut adalah penanganan jenazah orang yang terjangkit HIV AIDS. Pada umumnya virus dalam tubuh jenazah orang yang terkena HIV AIDS akan mati dalam waktu 6 jam. Namun demikian tetap disarankan kepada anggota keluarga yang tangannya luka agar tidak menyentuh jenazah meskipun telah lewat 6 jam.
Selain penyuluhan tentang HIV AIDS, dalam kesempatan tersebut dr. Setiawati juga membuka diskusi umum yang membahas seputar pelayanan kesehatan di RSUD Wangaya. Diskusi tersebut juga sebagai ajang untuk mensosialisasikan penggunaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Jaminan Persalinan (Jampersal) dan Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) karena banyak masyarakat yang masih bingung membedakan fungsi dari masing-masing jaminan, persyaratan, bahkan ada yang sama sekali belum mengetahui adanya program jaminan kesehatan yang diluncurkan pemerintah tersebut. (ind)